Selama ini Tiongkok dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman agama yang unik. Tidak hanya Buddha, di Tiongkok ada juga agama tradisional seperti Konfusianisme, Taoisme, Kristen Katolik Roma, Protestan, Muslim, hingga penganut Falun Gong. Akan tetapi, masih banyak yang tidak tahu mengenai ritus keagamaan unik yang dilakukan oleh masyarakat Tiongkok dalam kegiatan berkebun. Kabarnya, mereka bercocok tanam dengan melakukan doa dan ritual. Apakah itu benar?
Agama Tradisional di Tiongkok
Tiongkok dikenal sebagai negara yang sangat kaya akan budaya dan sejarah. Sejarah agama di Tiongkok bermula dari gunung-gunung dan sungai-sungai yang dianggap oleh orang Tiongkok sebagai tempat tinggal dewa-dewi. Pemujaan tersebut kemudian berkembang menjadi agama kuno seperti Dinasti Shang sekitar 1600 SM.
Dalam dinasti ini, Buddha, Laozi, dan Konfusius juga diperkenalkan kepada orang Tiongkok. Setelah itu, terdapat penyebaran agama Buddha dan Taoisme. Agama Buddha masuk ke Tiongkok pada awal abad ke-1 Masehi melalui Jalur Sutra. Agama Taoisme juga menjadi agama baru yang diperkenalkan pada periode dinasti tersebut.
Agama Buddha
Agama Buddha merupakan agama yang memiliki pengikut di seluruh dunia dan diperkenalkan ke Tiongkok pada awal abad ke-1 Masehi. Agama Buddha dikenal juga dengan sebutan ‘Fójiào’ di Tiongkok. Fójiào artinya ‘jalan menuju kesempurnaan’. Agama Buddha di Tiongkok memiliki pengaruh yang besar di bidang seni, sastra, dan mempengaruhi pemikiran pemimpin politik di Tiongkok.
Pada abad ke-10, seorang biksu Tiongkok bernama Huisheng mendirikan naskah Buddhis “Baizhang Qinggui” atau “Seribu Norma Etiket” yang diyakini sebagai sumber dari serangkaian aturan etiket di kuil-kuil Buddha. Naskah ini dianggap sangat penting karena menjelaskan tentang tata krama dalam melakukan pemujaan serta memperjelas adanya perbedaan antara agama Buddha dan agama Taoisme.
Agama Taoisme
Agama Taoisme atau disebut juga ‘Daojia’ di Tiongkok, merupakan agama tradisional Tiongkok yang memiliki karakteristik mistis dan filosofis. Agama ini berfokus pada konsep kekekalan dan perubahan alami yang terjadi di alam semesta. Ciri utama agama Taoisme adalah adanya konsep ‘Dao’ yang bermakna ‘jalan’. Menurut agama Taoisme, jalan inilah yang menjadi petunjuk dalam menjalani hidup sehingga dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang abadi.
Agama Taoisme dianggap sebagai agama yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat Tiongkok. Agama ini mengajarkan tentang cara hidup yang harmonis dengan alam semesta, seperti cara bertani, sistem pengobatan, pengaturan ruang, dan hubungan sosial dalam masyarakat. Karena itulah, agama ini sangat dipelajari di sana dan menjadi bagian dari kebudayaan Tiongkok yang konsisten hingga saat ini.
Konfusianisme
Konfusianisme atau disebut juga ‘Rujia’ di Tiongkok, merupakan sebuah filosofi dan juga agama. Dinamakan Konfusianisme karena mengikuti ajaran Kung Fu Tse atau biasa dikenal sebagai Konfusius. Konfusianisme sangat dekat dengan ajaran agama Taoisme dalam pandangan hidup yang harmonis dengan alam semesta. Konfusianisme lebih dikenal sebagai ajaran moral dan etika, sehingga dikatakan memiliki peran penting dalam pembentukan masyarakat Tiongkok.
Konfusianisme juga mengajarkan kewajiban sebagai manusia yang harus menjalankan tugas sesuai dengan hierarki yang berlaku dalam masyarakat. Agama Konfusianisme berkembang sangat pesat di Tiongkok, dan pengaruhnya masih besar dalam kebudayaan Tiongkok saat ini.
Kesimpulan
Tiongkok adalah sebuah negara yang memiliki kekayaan budaya sangat luar biasa dan agama adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya tersebut. Agama di Tiongkok sangatlah beragam, dari agama Buddha, Taoisme, hingga Konfusianisme. Namun, ketiganya dapat dikatakan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat Tiongkok sampai saat ini.
Dari ketiga agama tersebut, dapat dilihat konsep yang selaras dengan ajaran hidup dalam kehidupan sosial masyarakat Tiongkok. Agama Buddha membawa konsep kesejukan dalam hidup, agama Taoisme membawa konsep harmonis dengan alam semesta, dan Konfusianisme membawa konsep moral dan etika dalam kehidupan. Semua hal tersebut menunjukkan bahwa agama di Tiongkok sangatlah kompleks dan bermakna dalam kehidupan manusia.
Jenis-jenis Agama di Tiongkok
Konfusianisme
Konfusianisme merupakan sebuah agama yang sangat populer di Tiongkok. Agama ini didirikan pada zaman Dinasti Zhou (abad ke-10 hingga abad ke-3 SM) dan didasarkan pada ajaran-ajaran filsafat Konfusius.
Konfusianisme mengajarkan individu untuk memperbaiki perilaku mereka agar dapat memimpin sebuah keluarga atau masyarakat yang baik. Konfusianisme mengedepankan nilai-nilai moral seperti sikap hormat, kesetiaan, dan kejujuran.
Ajaran konfusianisme sangat mempengaruhi kehidupan sosial Tiongkok. Hal ini dapat dilihat dari beberapa tradisi Tionghoa yang berakar dari ajaran konfusianisme, misalnya adanya Penghormatan untuk Orang Tua, mencakup kebijakan filial, dan beberapa tradisi keluarga yang memiliki hubungan erat dengan ajaran konfusianisme.
Buddhisme
Buddhisme merupakan agama yang datang dari India dan masuk ke Cina pada abad pertama Masehi. Agama ini kemudian menyebar di Tiongkok, dan menjadi salah satu agama yang sangat populer di sana.
Buddhisme mengajarkan individu untuk mencari kedamaian batin dan kebahagiaan melalui meditasi dan ajaran-ajaran tentang cara memperbaiki hidup mereka. Pada masa Dinasti Tang, Buddhisme berkembang pesat di Tiongkok, dan banyak bangunan terkenal seperti kuil, stupa, dan pagoda didirikan di seluruh negeri.
Perayaan Imlek merupakan acara penting bagi umat buddha di Tiongkok. Pasar-pasar umat buddha menyediakan berbagai bahan untuk membuat kue-kue penganan tradisional Tiongkok yang biasanya disajikan pada saat Imlek bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh di Indonesia.
Kristen
Agama kristen masuk ke Tiongkok pada abad ke-7 melalui para sejarawan dan pedagang Persia. Namun, agama ini tidak berkembang pesat hingga era Dinasti Qing pada abad ke-18. Gereja-gereja yang terkenal seperti Katedral Xujiahui di Shanghai dan Katedral Nanjing Road di Beijing menjadi bukti kehadiran agama Kristen di Tiongkok.
Pada masa pemerintahan Mao Zedong, Kristen menghadapi banyak kendala. Banyak gereja dan institusi Kristen yang ditutup. Namun, sejak 1980-an, Kristen mulai berkembang lagi di Tiongkok. Walaupun sekarang Agama Kristen di land of the red dragon masih dianggap oleh pemerintah sebagai agama asing, toleransi antar agama di Tiongkok semakin meningkat.
Itulah beberapa agama yang terdapat di Tiongkok. Meskipun setiap agama memiliki ajarannya masing-masing, tetapi toleransi antar agama sangat ditekankan di Tiongkok. Toleransi ini diimplementasikan dalam pengakuan dan hak asasi manusia untuk semua agama di Tiongkok.
Tradisi dan Upacara Agama di Tiongkok
Tiongkok merupakan negara dengan penduduk terpadat di dunia, dan memiliki berbagai macam kepercayaan dan agama. Terdapat beberapa tradisi dan upacara agama yang telah menjadi bagian dari kebudayaan Tiongkok, yang masih dijalankan hingga saat ini. Beberapa di antaranya adalah tarian naga dan singa, mandi keramat, dan upacara kematian.
Tarian Naga dan Singa
Tarian naga dan singa merupakan salah satu upacara keagamaan yang dilakukan di Tiongkok. Tarian ini dilakukan dengan mengenakan kostum yang mirip dengan naga dan singa. Seiring dengan gerakan-gerakan tarian, para penari membunyikan musik tradisional Tiongkok dengan gong, drum, dan simbal. Tarian naga dan singa biasanya dilakukan pada saat festival, perayaan tahun baru Imlek, atau upacara pernikahan.
Asal-usul tarian naga dan singa berasal dari legenda saat Dinasti Han pada zaman kuno. Menurut cerita, sebuah naga telah memberikan sinarnya pada manusia dan mengajarkan mereka seni tarik napas, sehingga naga sering kali diidentikkan sebagai lambang kesuburan dan keberuntungan dalam kebudayaan Tiongkok. Setelah itu, tarian naga dan singa menjadi ritual yang dilakukan di kuil-kuil sebagai simbol keberuntungan.
Pentingnya tarian naga dan singa dalam kebudayaan Tiongkok adalah karena dianggap sebagai ritual yang dapat membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi masyarakat Tionghoa. Selain itu, tarian ini juga dapat menjaga tradisi dan budaya, serta meningkatkan rasa kebersamaan dalam masyarakat. Tarian naga dan singa juga telah menjadi warisan budaya Tiongkok yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Mandi Keramat
Mandi keramat merupakan tradisi agama yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa yang beragama Budha atau Tao. Mandi keramat dilakukan dengan mandi di kolam atau sungai yang dipercaya memiliki kekuatan magis untuk membersihkan dan menyembuhkan tubuh dari penyakit.
Tempat-tempat keramat yang dijadikan sebagai tujuan wisata keagamaan antara lain Sungai Suci Sungai Gangga (Ganges Tiongkok), walaupun sungai ini tampak tercemar dan banyak sampah, tetapi masyarakat Tiongkok tetap mempercayai kekuatan keramatnya. Selain itu, terdapat juga beberapa tempat keramat seperti Gunung Taishan, Kuil Putuo di Pulau Zhoushan, dan Kuil Lingshan yang menjadi tujuan ziarah keagamaan di Tiongkok.
Pengaruh mandi keramat terhadap kehidupan masyarakat Tiongkok adalah memberi pengaruh pada pandangan masyarakat tentang keselarasan antara alam dan kehidupan manusia, dan mempercayai kekuatan magis yang terdapat pada alam. Selain itu, mandi keramat juga dijadikan sebagai objek wisata yang dapat meningkatkan ekonomi dan pariwisata dari tempat keramat tersebut.
Upacara Kematian
Seperti kebanyakan negara di Asia, masyarakat Tiongkok memiliki upacara kematian yang berbeda dari kebanyakan negara di Barat. Upacara kematian di Tiongkok terdiri dari beberapa ritual, yang bertujuan untuk memberi penghormatan kepada arwah orang yang telah meninggal dan memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan. Biasanya upacara ini diadakan dalam waktu 7 hari setelah orang meninggal.
Ritual-ritual pada upacara kematian di Tiongkok antara lain merenungkan Quran atau kitab suci lainnya untuk mendoakan arwah orang yang meninggal, membersihkan dan merapikan tempat kematian, dan mengadakan ritual pemakaman. Orang yang berduka biasanya mengenakan pakaian putih sebagai tanda kesedihan, dan melapisi cermin di rumahnya dengan kertas merah untuk mencegah roh jahat masuk.
Paham dan kepercayaan masyarakat Tiongkok terhadap kehidupan setelah kematian tampak dalam ritual pada upacara kematian. Mereka mempercayai bahwa setelah kematian, orang masih tetap hidup dan berada di alam lain, dan akan terus dipengaruhi oleh keadaan dunia nyata.
Dalam kesimpulannya, Tiongkok memiliki banyak kepercayaan dan agama yang berkembang di dalamnya. Beberapa tradisi dan upacara agama seperti tarian naga dan singa, mandi keramat, dan upacara kematian telah menjadi bagian penting dari kebudayaan Tiongkok dan masih dijalankan hingga saat ini. Keberagaman ini juga menunjukkan keragaman kepercayaan dan kebudayaan masyarakat Tionghoa yang patut untuk dihargai.
Jadi, Misteri Agama di Tiongkok semakin terungkap dengan adanya budaya cocok tanam dengan doa. Meskipun terdengar sedikit aneh, tapi sebenarnya ini adalah bentuk penghormatan mereka kepada alam dan tradisi leluhur. Adanya dukungan pemerintah saat ini, semakin menunjukkan bahwa praktik ini dipandang sebagai bagian penting dari identitas Tiongkok yang kaya dan budaya yang unik. Jangan ragu untuk mencoba, dan siapa tahu, kita juga bisa merasakan keajaiban dalam mendapatkan hasil panen yang baik.
Maka dari itu, mari kita lestarikan budaya dan tradisi yang ada di sekitar kita. Terkadang, kita semakin dekat dengan keajaiban ketika kita menerima dan menghormati alam semesta. Dan jangan lupa, gunakan kebaikan kita untuk menyebarkan pesan damai dan toleransi pada orang terdekat kita. Kamu setuju kan?