Heboh! Agama Mayoritas di Jepang Ternyata Bukan Shinto atau Buddha?

Heboh! Agama Mayoritas di Jepang Ternyata Bukan Shinto atau Buddha?

Hai, pembaca setia KabarKece! Dari sekian banyak agama di dunia, kita mungkin sering mendengar tentang agama Buddha dan Shinto. Namun, tahukah kamu bahwa mayoritas penduduk Jepang sebenarnya memeluk agama lain? Ya, benar! Agama mayoritas di Jepang ternyata bukan Shinto atau Buddha, lho! Penasaran seperti apa agama mayoritas tersebut? Yuk, simak artikel ini sampai habis, ya!

Agama Mayoritas di Jepang

Jepang dikenal sebagai negara maju yang memiliki budaya dan sejarah yang kaya serta beragam. Salah satu ciri khas yang membedakan Jepang dengan negara-negara lainnya adalah agama mayoritasnya yang terdiri dari dua agama, yaitu Shinto dan Buddhisme.

Sejarah Agama di Jepang

Shinto adalah agama asli Jepang yang berkembang sejak zaman kuno. Shinto berasal dari kata “shin” yang berarti dewa atau kekuatan spiritual dan “to” yang berarti jalan atau ajaran. Agama ini berasal dari kepercayaan animisme Jepang, yaitu kepercayaan bahwa semua benda dan makhluk memiliki roh atau kekuatan spiritual.

Buddhisme pertama kali masuk ke Jepang pada abad ke-6 Masehi dari Korea dan Tiongkok. Agama ini cepat diterima oleh rakyat Jepang karena dianggap sebagai agama yang memiliki nilai-nilai moral yang baik dan mendukung tata krama kehidupan yang baik.

Perbedaan Antara Shinto dan Buddhisme

Meskipun Shinto dan Buddhisme memiliki kemiripan dalam beberapa aspek, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam kepercayaan dan praktik mereka.

Shinto memuja dewa-dewi dan roh alam Jepang, sementara Buddhisme memuja sang Buddha dan para arahat. Shinto juga dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan nenek moyang, sedangkan Buddhisme dipengaruhi oleh doktrin yang diajarkan oleh sang Buddha.

Praktik dan ritual juga berbeda antara Shinto dan Buddhisme. Shinto lebih menekankan pada upacara peribadatan dan ritual pembangunan kuil, sementara Buddhisme lebih menekankan pada meditasi dan pengabdian pada sang Buddha dan ajarannya.

Baca Juga:  Inilah Kehidupan Istimewa dan Menarik dari Elina Joerg Agama

Toleransi Agama di Jepang

Salah satu karakteristik unik tentang agama di Jepang adalah adanya toleransi yang tinggi antara agama-agama yang berbeda. Budaya dan tradisi Jepang menghargai keberadaan agama-agama yang berbeda dan memandangnya sebagai bagian penting dari keragaman budaya dan masyarakat Jepang.

Tidak ada diskriminasi terhadap agama tertentu di Jepang, setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan mengamalkan agama sesuai dengan keyakinannya. Hal ini tercermin dari keberadaan kuil-kuil dan gereja-gereja yang tersebar di seluruh Jepang.

Di Jepang, juga terdapat agama-agama minoritas seperti Islam, Kristen, dan Hindu. Meskipun agama-agama ini tidak banyak diikuti oleh orang Jepang, mereka tetap diakui dan dihormati sebagai bagian dari keragaman agama di Jepang.

Secara keseluruhan, agama di Jepang memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Kehadiran agama-agama ini memberikan nilai-nilai moral dan etika yang mendorong orang untuk hidup dengan baik dan menjaga kedamaian dan keselarasan dalam masyarakat.

Contoh Praktik Shinto dan Buddhisme di Jepang

Upacara Shinto

Salah satu contoh praktik Shinto yang sering dilakukan di Jepang adalah upacara pernikahan. Dalam upacara tersebut, pasangan pengantin mengenakan pakaian tradisional Jepang dan melakukan ritual persembahan kepada dewa-dewa Shinto. Upacara pernikahan seperti ini biasanya dilakukan di kuil Shinto.

Selain itu, festival matsuri juga merupakan praktik Shinto yang populer di Jepang. Festival ini melibatkan pemujaan dewa-dewa Shinto dan dihiasi dengan musik, tarian, dan permainan tradisional Jepang. Beberapa festival matsuri yang terkenal di antaranya adalah Awa Odori di Tokushima dan Gion Matsuri di Kyoto.

Tempat Wisata Buddhisme

Buddhisme juga memiliki tempat suci penting di Jepang. Di Nara, ada Kuil Todaiji yang merupakan kuil Buddha terbesar di Jepang. Kuil ini menyimpan patung Buddha Vairocana dan juga merupakan tempat tinggal rusa liar yang berkeliaran di area kuil. Selain itu, di Kyoto terdapat Kuil Kiyomizu yang terkenal dengan bangunan utamanya yang dibangun tanpa menggunakan satu pun paku.

Baca Juga:  Raja Balaputra Dewa pernah memimpin sebuah kerajaan yang bercirikan Buddhis hingga mencapai puncak kejayaan, kerajaan tersebut bernama . . . .

Memadukan Shinto dan Buddhisme

Meskipun Shinto dan Buddhisme adalah agama yang berbeda, masyarakat Jepang sering memadukan keduanya dalam kepercayaan mereka. Beberapa praktik keagamaan yang menggabungkan Shinto dan Buddhisme di Jepang misalnya saat menyambut kelahiran bayi, di mana orang tua membawa bayi mereka ke kuil Shinto untuk memohon doa keselamatan dan kesehatan, lalu membawa bayi tersebut ke kuil Buddha untuk memberikan persembahan.

Selain itu, beberapa kuil di Jepang juga menggabungkan dua agama ini. Salah satu contohnya adalah Kuil Itsukushima di Hiroshima yang memiliki bangunan torii (gerbang) besar di perairan dan juga memiliki area kuil Buddha di dekatnya.

Dalam budaya Jepang, tidak ada masalah dalam memadukan peribadatan dua agama yang berbeda. Hal ini karena masyarakat Jepang melihat agama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak melihat perbedaan agama sebagai penghalang untuk bersatu dalam suatu kepercayaan.

Dalam kesimpulannya, Shinto dan Buddhisme merupakan agama yang sama-sama penting di Jepang dan diakui oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari kehidupan mereka. Praktik-praktik keagamaan dari kedua agama tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Jepang yang unik dan menarik untuk dikunjungi.

Pokoknya, Jepang itu kayanya sangat pelik dan misterius ya guyss. Setelah kita tahu kalau mayoritas penduduknya non agamis atau agama yang diikuti jauh dari perkiraan kita, rasanya jadi makin penasaran dan ingin tahu lebih banyak nih. Apapun agama atau keyakinan yang dipegang, kita harus saling menghargai dan menghormati, ya kan? Kita bisa belajar banyak dari keberagaman budaya dan agama di negara kita dan yang lain. Jangan lupa untuk menghargai dan mempromosikan kebhinekaan serta memaknai arti toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Yuk, terus belajar, warga net!